Sejatinya Berbagi Itu Tak Pernah Rugi
Insan Mandiri
Penulis
By Khansa Suhita
Anak-anak adalah peniru ulung yang belajar melalui pengamatan (pembelajaran observasi) terhadap perilaku, ucapan, dan reaksi orang dewasa di sekitarnya. Hal ini dikarenakan otak anak memiliki neuron cermin yang aktif dimana mereka bercermin pada perilaku di depannya, menjadikannya peniru alami. Karenanya, meniru adalah bagian dari perkembangan sosial dan bahasa, seringkali muncul sejak usia satu tahun. Mereka menyerap nilai-nilai, tata krama, hingga kebiasaan dan emosi orang di sekitarnya terutama orang tua. Oleh karena itu, orang tua seyogyanya memberikan keteladanan positif terhadap anak-anak. Pada dasarnya tindakan lebih efektif dibanding dengan nasihat.
Apa saja yang ditiru? Mulai dari bahasa dan reaksi, yaitu bagaimana orang dewasa berkata dan bereaksi terhadap sesuatu.Kebiasaan Sehari-hari, yaitu cara makan, penggunaan gadget, belanja online, dan cara merapikan barang. Manajemen Emosi, yaitu cara orang tua mengatasi kemarahan, stres, atau menyelesaikan masalah. Sikap Sosial, yaitu tata krama seperti menyapa, mengucapkan terima kasih, atau membantu orang lain, dan juga dalam hal berbagi.
Bagaimana perilaku orang tua dalam hal berbagi akan dapat membekas pada diri anak-anaknya. Karena kembali lagi ke pembahasan awal bahwa anak-anak adalah peniru yang ulung. Apa yang mereka lihat itu lebih membekas daripada apa yang mereka dengar. Karenanya teladan baik di lingkungan anak bertumbuh dan berkembang sangatlah penting.
Berikut adalah cara mengajarkan berbagi melalui teladan:
1. Tunjukkan Contoh Langsung
Orang tua adalah model utama bagi anak-anaknya karena mereka adalah role model pertama yang ditemui anak-anak. Praktikkan berbagi di depan anak, seperti berbagi bekal dengan pasangan, memberikan makanan kepada tetangga, atau berbagi waktu dan perhatian.
2. Melibatkan Anak dalam Kegiatan Sosial
Ajak anak menyisihkan sebagian uang jajan untuk celengan sedekah atau memberikan barang/mainan layak pakai kepada yang membutuhkan. Jadwalkan rutin anak untuk berbagi, misalnya satu tahun sekali ajak mereka berkunjung ke panti asuhan, setiap 6 (enam) bulan sekali decluttering atau pilah baju untuk di sumbangkan, setiap satu bulan sekali ajak anak menyiapkan makanan atau sembako untuk dibagikan kepada yang membutuhkan.
3. Berbagi di Lingkungan Rumah
Biasakan berbagi makanan atau mainan dengan saudara kandung atau teman bermain. Ajarkan konsep bergantian, misalnya dalam menggunakan mainan yang sama. Kapan waktu anak menggunakan mainannya, dan kapan anak yang lain.
4. Hargai dan Apresiasi
Jika anak keberatan berbagi, jangan memaksa. Hargai perasaannya, mungkin masih perlu waktu dan tetap kita tanamkan pengertian berbagi kepadanya. Namun jangan lupa memberikan pujian spesifik saat mereka rela berbagi, seperti "Bunda senang kamu mau berbagi mainan dengan teman".
5. Gunakan Permainan dan Cerita
Lakukan permainan kolaboratif (puzzle/balok) yang membutuhkan kerja sama. Bacakan buku cerita yang bertema berbagi untuk menanamkan nilai empati secara emosional.
Nah, itulah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengajakan anak berbagi dengan menggunakan teladan. Barangkali Ayah-Bunda disini menemui ada anak yang susah berbagi. Jangan langsung menghakami bisa jadi dia belum paham konsep berbagi atau salah pola asuh.
Kenapa anak susah berbagi?
Pertama, anak belum mengenal konsep berbagi. Pada usia balita, anak biasanya belum memahami bahwa ada banyak hal yang dapat dimiliki bersama. Ketika memiliki barang, anak akan berpikir bahwa barang tersebut hanya miliknya. Bahkan bisa saja ketika melihat sebuah mainan dan ia memegangnya, anak akan berpikir mainan itu miliknya dan tidak boleh dimainkan temannya. Karena memang tahap perkembangan sosialnya seperti itu. Konsep ke-aku-an nya masih sangat tinggi.
Kedua, pola asuh yang kurang tepat. Orang tua tentu sangat mencintai anak-anak mereka dan ingin anak mereka bahagia. Contohnya, orang tua jarang mengajarkan atau mencontohkan anak untuk berbagi apa yang ia miliki dengan orang lain. Bisa saja sebaliknya, orang tua terlalu memaksakan anak untuk berbagi yang menyebabkan anak merasa kesal dan memandang berbagi sebagai hal yang negatif. Pola asuh ini kemudian akan menyebabkan anak sulit untuk belajar berbagi.
Nah ketika anak mengalami hal ini tentu saja cara-cara mengenalkan berbagi yang sudah kita bahas sebelumnya bisa menjadi sebuah solusi. Ajak anak senantiasa terlibat dan melihat contoh positif dalam hal berbagi.
Demikian halnya dengan Idul Adha, bisa jadi momen untuk mengajarkan anak berbagi. Ajak anak terlibat dalam pemilihan dan pembelian hewan kurban. Pahamkan kepada anak bahwa Qurban adalah wujud kita berbagi kebahagian dan kepedulian sosial terhadap sesama. Qurban adalah momen berbagi daging qurban. Orang-orang yang tidak bisa makan daging (karena keterbatasan ekonomi) di hari-hari biasa, akan bisa makan daging di hari raya Idul Adha. Ini yang perlu dipahamkan juga ke anak-anak.Sejatinya berbagi itu tidak pernah rugi.
Semoga kita senantiasa dimudahkan untuk mendampingi dan mendidik anak-anak kita. (ks)
Ajak orang baik lainnya
Baca Juga
Bagaimana anak menjadi manfaat?
10 Maret 2026
Menjaga Semangat Ramadhan Sepanjang Tahun
02 April 2026
Pembelajaran Kontekstual, Bukan Tekstual
21 Oktober 2024
Membangun Komunikasi dengan Anak
12 September 2024