Logo Insan Mandiri
Kurban Merealisasikan Cinta Kepada Allah dan Sesama
Artikel 06 Mei 2026

Kurban Merealisasikan Cinta Kepada Allah dan Sesama

Insan Mandiri

Penulis

Setiap perintah dan kisah-kisah dalam Al-Qur’an mempunyai pelajaran dan hikmah yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang menggunakan akalnya atau berilmu.

“Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat. Al-Qur’an bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan merupakan pembenar (kitab-kitab) yang sebelumnya, memerinci segala sesuatu, sebagai petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. Yusuf : 111). 

Sehingga kita sebagai umat islam haruslah terus menerus menggunakan akal pikiran untuk mendapatkan pelajaran dan hikmah atas kisah-kisah yang ada, yang akan menguatkan dan mengokohkan aqidah keimanan kita. Dengan demikian kuat dan kokohnya iman kita karena ilmu bukan karena taqlid.

Manusia yang berilmu akan menangkap fenomena-fenomena yang bersifat abstrak dan konkret untuk diolah menjadi pengetahuan yang akan menjadi dasar misi dari kehidupannya. Dengan kemampuan menangkap fenomena yang terjadi disertai oleh petunjuk tertulis, maka manusia akan mampu mengisi hidupnya dengan baik, menjadi manusia yang terbaik. Karena kehidupan itu sendiri tidak lain adalah semata-mata untuk mewujudkan kehendak yang Maha Mulia, mewujudkan Rahmatan lil alamin berdasarkan nilai-nilai kebenaran Ilahi, nilai-nilai kedamaian, keteraturan, harmoni, keseimbangan dan keberkahan dunia dan akhirat. 

 

Memaknai kurban berdasarkan keilmuan, akan menyadarkan kita bahwa berkurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan sebuah ibadah yang sarat dengan makna spiritual, sosial terutama nilai kemanusiaan yang akan menjadi syiar kita, syiar islam. Karena saat kita potong hewan kurban yang sampai kepada Allah bukanlah darah dan daging hewan yang kita kurbankan, tetapi ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

“Unta-unta itu Kami jadikan untukmu sebagai bagian dari syiar agama Allah. Bagimu terdapat kebaikan padanya. Maka, sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya, sedangkan unta itu) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Lalu, apabila telah rebah (mati), makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkannya (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur”. (QS: 22/36)

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS: 22/37)

Maka di balik pelaksanaan kurban, terdapat hikmah besar yang berkaitan erat dengan konsep cinta, baik cinta kepada Allah maupun cinta kepada sesama manusia, ada syiar islam untuk kebaikan bersama, untuk kesejahteraan sesama manusia, untuk keseimbangan alam semesta, ada rantai perekonomian yang tercipta, dari peternak, pedagang, pengusaha pupuk alami, petani, sampai kepada juru masak pengolah daging.

Pertama, kurban adalah wujud cinta sejati kepada Allah. Kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail, menunjukkan bahwa cinta kepada Allah SWT harus ditempatkan di atas segala-galanya. Ketundukan dan keikhlasan Nabi Ibrahim menggambarkan bahwa cinta sejati tidak hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan pengorbanan. Dalam konteks ini, kurban mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus diwujudkan melalui ketaatan dan kesiapan untuk melepaskan hal-hal yang paling kita sayangi, baik ego pribadi, tuntutan keluarga, masyarakat dan lingkungan. Dengan keyakinan yang kuat bahwa Allah tidak akan menjerumuskan hambanya pada kesengsaraan pribadi, permusuhan sosial dan lingkungan.

Kedua, kurban mencerminkan cinta kepada sesama manusia. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan menjadi simbol kepedulian sosial. Ibadah ini mengajarkan bahwa cinta tidak hanya bersifat vertikal (kepada Tuhan), tetapi juga horizontal (kepada sesama). Dengan berbagi, kita merasakan kebahagiaan yang tidak hanya dinikmati sendiri, melainkan juga bersama orang lain. Selain itu, kurban juga mengajarkan cinta dalam bentuk keikhlasan dan pengendalian diri. Tidak semua orang mudah melepaskan harta yang dimilikinya. Namun, melalui kurban, seseorang dilatih untuk mengalahkan ego dan rasa kepemilikan yang berlebihan. Di sinilah cinta dimaknai sebagai kemampuan memberi tanpa mengharap balasan.

Pada realisasi kehidupan sehari-hari ketika kita sudah mencintai sesuatu, maka apapun pastilah akan kita korbankan: harta, tahta, waktu, tempat, bahkan harga diri. Dengan kurban yang telah dicontohkan oleh nabi Ibrahim AS, mengisyaratkan kepada kita bahwa ada cinta yang lebih besar, yang harus kita perjuangkan untuk syiar islam, untuk kemaslahatan sosial, untuk kesimbangan alam semesta.

Dengan demikian, hikmah kurban menunjukkan bahwa cinta sejati adalah perpaduan antara pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian. Kurban mengajarkan bahwa semakin besar cinta seseorang, semakin besar pula kesediaannya untuk berkorban. Oleh karena itu, ibadah kurban memberikan pelajaran hidup tentang bagaimana mencintai dengan tulus kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Yayasan Insan Mandiri Global setiap tahun, pada perayaan kurban selalu menghimpun binatang kurban dari masyarakat (tidak kurang dari puluhan sampai ratusan hewan kambing dan puluhan sapi) yang kita distribusikan kepada masyarakat sekitar. Insan Mandiri Global juga melaksanakan kegiatan kurban di NTT dan Afrika sebagai syiar islam untuk daerah-daerah yang perlu diperkenalkan ajaran Islam kepada mereka. Alhamdulillah antusias mereka begitu besar. Semoga pada tahun ini semakin banyak sahabat-sahabat kita yang akan menitipkan kurbannya melalui Insan Mandiri Global. Aamiin

N. Astono

Ajak orang baik lainnya

Baca Juga

Lihat Semua