Logo Insan Mandiri
Empati pada anak
Artikel 02 Juli 2026

Empati pada anak

Insan Mandiri

Penulis

oleh Khansa Suhita

Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, tidak hanya cakap dalam bidang akademik tapi juga cakap dalam iman dan akhlak. Kepribadian anak setelah dewasa tak bisa lepas dari bagaimana pola pendidikan yang diterapkan orang tua sejak dini. Salah satu kecakapan akhlak  yang diharapkan orang tua dari anaknya adalah peduli dan empati pada sesama.  Umumnya, anak baru memahami konsep empati saat ia berusia  8–9 tahun. Namun, pada usia 5 tahun, anak sudah dapat menyatakan perasaan tentang bagaimana dirinya ingin diperlakukan sekaligus bagaimana sebaiknya ia memperlakukan orang lain.

Pada usia ini pula, kita sebagai orang tua sudah bisa mulai mengajarkan anak mengenali dan mengelola emosinya agar rasa empati dalam dirinya dapat terbentuk. Berikut ini adalah beberapa cara melatih empati pada anak yang dapat dilakukan:

1. Ajarkan Anak Mengenali Emosi

Anak dapat memahami dan mengelola emosinya dengan baik saat ia mampu mengenali perasaannya. Sebagai orang tua, kita dapat membantu anak mengenali perasaannya dengan berbagai cara.

Misalnya, ketika anak menangis karena tidak boleh Minum es saat batuk, Anda bisa mengatakan, "Bunda paham kamu sedih karena tidak bisa minum es, tetapi kamu masih batuk, Nak. Nanti kalau sudah sembuh boleh minum es lagi."

Kita juga bisa mengajaknya bermain tebak-tebakan dengan menyediakan kumpulan stiker bergambar ekspresi emosi dasar, seperti sedih, marah, atau senang. Minta anak untuk memilih salah satu stiker yang menggambarkan perasaannya saat itu, lalu minta ia menceritakan alasan memilih ekspresi tersebut.

2. Penuhi Kebutuhan Emosional Anak

Pengalaman emosional antara orang tua dan anak sangat penting untuk perkembangan empatinya. Interaksi positif dan menghargai perasaan anak akan membuatnya merasa aman, terlindungi, dan dicintai sehingga anak akan lebih peka terhadap kebutuhan emosional orang lain.

Oleh karena itu, sebagai orang tua kita perlu memenuhi kebutuhan emosional anak. Misalnya, ketika anak merasa takut, bagaimana kita sebagai orang tua hadir memberinya semangat.

3. Ajari Anak Adab Kesopanan

Memasuki usia 5 tahun, kita dapat melatih empati anak dengan cara mengajari nilai kesopanan. Berikan pengertian kepada anak mengenai pentingnya menunjukkan rasa peduli dan hormat kepada orang lain.

Misalnya, saat anak menginginkan sesuatu, ajari ia untuk mengucapkan kata “tolong”. Ajari pula kebiasaan mengucapkan “terima kasih” setelah diberi sesuatu oleh orang lain. Selain itu, jika ia melakukan kesalahan, ajarkan untuk mengatakan kata “maaf”.

4. Libatkan Anak Dalam Kegiatan Sosial

Melibatkan anak dalam kegiatan sosial dapat dilakukan untuk melatih empatinya. Kita bisa mengajak anak kita mengemas pakaian, boneka atau mainan layak pakai untuk didonasikan atau diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Kali ini, biarkan ia memilih dan mengatur barang mana saja yang harus ia kumpulkan untuk diberikan kepada yang membutuhkan.

Berikan pengertian kepada anak bahwa bantuan yang diberikannya dapat membuat orang lain bahagia. Ajarkan pula bahwa dengan berbagi, kita tak akan rugi.

5. Ajarkan Anak Menghadapi Emosi Negatif

Siapa pun, termasuk anak-anak, dapat mengalami emosi negatif seperti marah, cemburu, sedih, atau kecewa. Anak yang diajarkan untuk menangani perasaan tersebut dengan cara positif cenderung memiliki kecerdasan emosi dan empati yang lebih baik.

Sebagai contoh, ketika anak merasa marah atau sedih, ia bisa menuangkan kemarahan atau kesedihannya pada aktivitas yang positif, misalnya menggambar atau menulis tentang emosinya.

6. Jadi Teladan yang Baik Bagi Anak

Orang tua merupakan teladan bagi anak. Oleh karena itu, penting untuk memberikan contoh yang baik, termasuk dalam melatih empati anak. Misalnya, ketika anak sedang sedih, berilah ia dukungan atau pelukan. Si kecil pun akan merasa nyaman dan mengenali rasanya diperhatikan orang lain.

Contoh lainnya adalah akui kesalahan yang kita lakukan. Meski terasa sulit, segera minta maaf kepada anak saat kita berbuat salah. Dengan begitu, anak akan belajar untuk memahami bahwa siapa pun bisa membuat kesalahan, tetapi yang terpenting adalah memberanikan diri untuk minta maaf.

7. Pupuk Rasa Senang Bersosialisasi

Kemampuan bersosialisasi sangat penting bagi pembentukan karakter anak. Anak yang terampil bersosialisasi umumnya akan memiliki perkembangan emosi yang lebih baik. Dari kegiatan sosialisasi ini, anak akan belajar bagaimana bertingkah laku yang baik, berempati, dan mengasah kepedulian terhadap sesama.

Bagaimana cara mengajarkan anak bersosialisasi? Berikan ia kesempatan untuk bergaul dengan teman-teman sebaya serta orang-orang di sekitarnya tanpa memilih-milih. Kita juga bisa mengenalkannya pada beberapa komunitas yang ia sukai, misalnya komunitas menggambar atau menari. Dari sana diharapkan ia akan mengenal banyak teman-teman baru yang memiliki kegemaran sama. Ini akan meningkatkan kemampuan sosial anak.

 

Melatih empati anak diperlukan proses yang tidaklah singkat, karena perlu waktu bagi anak untuk memahami dan menerapkan hal tersebut. Semoga kita dimudahkan untuk mendampingi anak kita dalam setiap langkahnya. (ks)

Ajak orang baik lainnya

Baca Juga

Lihat Semua